Mudah rasanya jika harus menceritakan tentang keindahan kawah Ijen (2443 mdpl) yang terletak di ujung timur pulau Jawa ini.Tentang bagaimana sinar matahari pagi menerobos dahan pepohonan mati di puncak kawah yang menjadi tempat wajib untuk berfoto diri. Tentang air danau asam berwarna hijau tosca beratapkan langit lazuardi yang berhiaskan awan putih atau tentang fenomena api biru yang konon hanya ada dua di seluruh dunia ini.
Tetapi bagiku kawah Ijen tidak melulu tentang itu.Ada pengorbanan dari para lelaki penambang belerang yang bertaruh peluh setiap harinya naik turun kawah dan melawan pekatnya asap di lokasi tambang. Dan mengerasnya kulit pundak mereka menjadi bukti bahwa beban belerang yang diangkut dengan keranjang bambu itu lebih berat dari bobot tubuhnya sendiri.
Belerang dapat kita temui di produk-produk yang kita gunakan setiap hari , seperti gula pasir, kosmetik, korek api, pasta gigi dan masih banyak lagi. Dengan harga Rp. 1250 per kilonya, para penambang itu rata rata bisa membawa pulang Rp. 80.000 tiap hari. Setara dengan minimal 70 kg belerang. Nilai angka yang jauh dari apa yang mereka korbankan di kesehatan, mengingat mereka harus bergelut dengan asap belerang yang mengandung Sulfur Dioksida (SO2) dengan hanya bertameng masker murahan. Tapi itu adalah pilihan terbaik bagi para penambang yang mayoritas hidup di lereng Gunung Ijen. Kalau tidak menambang, mereka bekerja sebagai buruh harian di perkebunan dengan upah Rp. 40.000 untuk bekerja mulai jam 6 pagi sampai jam 12 siang.
Aktifitas menambang dimulai jam 02.00 pagi, satu jam lebih awal dari para pengunjung wisata. Mendaki gunung selama dua jam, lalu menuruni lereng kawah yang curam. Salah langkah sedikit saja nyawa taruhannya. Bergelut dengan asap beracun, menambang belerang dengan bantuan linggis, mengumpulkannya ke dalam keranjang bambu yang selalu berderit ketika membawa beban menaiki lereng. Kemudian membawa belerang sampai ke tempat penimbangan berada. Setelah itu, para penambang bisa pulang ke rumah paling lama jam 12 siang.
Selain para penambang, ada beberapa orang yang bekerja di dasar kawah sebagai Petugas Sulfatara (PS) yang selama 15 hari tidak pulang ke rumah karena mereka harus menjaga pipa-pipa besi tempat belerang cair mengalir turun agar tidak terlalu panas. Banyak sedikitnya jumlah belerang yang bisa ditambang tergantung kepada kinerja para PS tersebut.
Adalah Sunarto (48), Hartoyo (44), Djailani (54), Marsugi (63), Subari (52) dan Ahmad (64), beberapa petugas yang saya temui di shift 15 hari mereka. Selain mengontrol pipa, mereka juga bertugas menyalakan api biru di kawah Ijen. Sebetulnya api biru itu menyala alami, tetapi beberapa tahun terakhir api itu mengecil sehingga harus dibakar manual agar bisa dilihat oleh para pengunjung. Mereka membakar sekeliling pipa dengan bantuan minyak solar mulai jam 3 pagi sampai jam 5 saat langit sudah mulai memerah pertanda matahari segera terbit. Setelah itu mereka memadamkan api itu agar tidak membakar pipa terlalu lama dan agar asap tidak terlalu tebal.
Setelah memadamkan api biru , mereka mengontrol pipa-pipa di Kawah Ijen, mengganti pipa apabila ada yang retak. Kegiatan itu dilakukan dua kali sehari saat pagi dan sore, selama 15 hari. Selain mendapat gaji sebagai PS, mereka juga mencari tambahan menambang belerang yang disetor setiap mereka turun gunung.
Separuh usia Sunarto dihabiskan bekerja di dasar kawah Ijen, melanjutkan mertuanya yang sudah tidak mampu lagi. Dia memiliki dua putra yang tinggal di daerah Plumpung, Banyuwangi. Si sulung sudah lulus SMK dan bekerja di pabrik keramik, sedangkan anak kedua masih kelas 1 SMK. 15 hari liburnya digunakan untuk merawat ternak sapi dan kebun kecil di belakang rumah yang ditanami kopi dan sayuran.