Foto ini merekam ingatan kolektif masyarakat pasca gempa Lombok 2018, dan bagaimana perjuangan masyarakat Lombok Utara bangkit dari trauma dan keterpurukan pasca gempa.
Pada malam 5 Agustus 2018, tampak seperti malam yang baik-baik saja di Lombok Utara, langit malam dengan pijaran cahaya bulan menerangi permukaan laut di Pelabuhan Bangsal, udara dingin merayap menuruni bukit seolah membuntuti para penyadap tuak yang mulai beranjak pulang.
Dari dalam tanah suara gemuruh terdengar, seperti ada sesuatu yang besar hendak melepaskan diri, getaran hebat yang menjalar keseluruh permukaan menghancurkan apapun yang dilewatinya, meratakan mereka dengan tanah. Malam itu berubah menjadi malam yang mencekam, manusia berhamburan menyelamatkan diri, jerit dan tangis terdengar dimana-mana, dan dengan tubuh gemetar menghitung jumlah keluarga yang tersisa.
Malam 5 Agustus 2018, menjadi malam yang tak terlupakan di Lombok Utara, karena pada pukul 19.46 WITA gempa bumi magnitudo 7,0 pada kedalaman hiposenter 34 km menghantam Lombok Utara. Gempa ini adalah salah satu dari serangkaian gempa yang mengguncang Lombok, tercatat setidaknya ada enam kejadian gempa bumi yang memiliki magnitude lebih dari 5,5 dari Juli hingga Agustus 2018. Pasca pristiwa ini, setidaknya ada ribuan bangunan mengalami kerusakan, ada ratusan korban jiwa, dan ratusan ribu orang harus hidup dalam pengungsian. Tentu tidak mudah untuk bangkit dari keterpurukan semacam ini, butuh waktu puluhan tahun untuk benar-benar pulih dan memudarkan pristiwa ini dari ingatan kolektif masyarakat.
Tahun ini menjadi tahun ketiga pasca gempa Lombok dan tahun kedua untuk pandemi Covid-19 di Indonesia, KLU sebagai daerah yang mengandalkan pariwisata sebagi penunjang perekonomianya menjadi sangat depresi dengan kondisi ini. “Getaran Terakhir di Utara” menjadi project foto yang mengajak anda untuk melihat lebih dekat kondisi di Utara pasca gempa, mengajak anda untuk mendengarkan cerita dari para penyintas gempa Lombok, dan mengajak anda untuk merasakan keteguhan hati orang-orang yang terus bangkit dan berjuang. Getaran di Utara bukan hanya getaran yang menghancurkan dan meratakan, geteran itu juga yang membentuk diri kami yang sekarang, dan getaran itu masih terasa hingga hari ini.