Sore itu, perjalanan panjang 4 tahun silam dimulai Juni 2018, langit megah merah mulai nampak, canda tawa masih bersautan menghibur hilangkan kebekuan kami dari bahasan kuliner sampai tingkah dari buah hati di ruang instalasi sebuah rumah sakit. Sorot teduh mata istriku masih terpancar optimisme tentang sebuah ikhtiar berharap lillah seorang ibu dari 3 pelita jiwa.
Gejala pusing yang muncul secara tiba-tiba tersebut tidak pernah kita duga dan menganggap hanya penyakit biasa. Akan tetapi hasil diagnosa disebutkan adalah tumor otak /Astrocitoma hingga mengganas yang dia anggap sebagai hikmah.
Di balik jendela besar kita lewati bersama dalam kurun waktu 15 bulan sejak observasi, biopsi, sampai operasi kedua hingga menjalani terapi yang sudah kita pahami efek jangka pendek maupun jangka panjang pasca operasi pengangkatan jaringan tumor di otak. Hanya seminggu kami bisa berkumpul bersama keluarga di rumah dalam sebulan kurun waktu 6 bulan untuk jalani perawatan rutin , merajut asa dan menumbuhkan semangat harapan
Berbaur dan silaturrahim dengan pasien lain yang seakan menjadi kerabat baru untuk saling bertukar informasi dan menanyakan perkembangan ketika menjalani perawatan dirumah. Puluhan hasil laboratorium baik saat scan maupun MRI jadi pembahasan kita apakah jaringan tersebut mengecil, membesar kembali sehingga bisa dilakukan penanganan yang lebih efektif
Tetap senyum meski dalam kelumpuhan pasca jalani operasi, walau terkadang lelah menghinggapi lalu teriring lirih lafal yg ia bisa. Semata-mata bersyukur masih diberi kenikmatan berada di antara orang-orang yang bersyukur kepadaNya dalam situasi apa pun dan di mana pun.
Diskusi kecil selalu ada menemani untuk menjaga mimpi melalui harapan, berserah diri, saling menguatkan untuk mengisi kekurangan menjadikan lebih tenang menghadapi segala hal.
Tak ada kata putus asa. Tetap ikhtiar yakin bahwa Tuhan masih bersama kita dan berkat dukungan doa orang tua, semangat dari semua keluarga, rekan, dokter, perawat, sahabat, tetangga, berharap bisa kembali normal seperti sediakala. Bisa berjalan, memeluk, mengasih anak, sampai memasak menjadi penggugah semangat untuk tidak menyerah.
Tetapi Yang Maha Kuasa lebih sayang padanya. Semoga tenang di taman surgaNya
Abdullah Rifai, pria kelahiran Surabaya, 2 Agustus 1984. Ayah dari Alaik Muhammad Rayhan A’raaf, Zuyyina Shinfy Aufarya, Ikfiniha Izzah Zayzafun Syadza. Bekerja sebagai karyawan di LKBN ANTARA Biro Jawa Timur dan mulai belajar fotografi melalui program ‘Sinau Foto’ yang diadakan oleh Antarafotojatim lalu mulai menemukan passion di fotografi jurnalistik.