Bertahun-tahun lampau sebelum Kapal yang dinahkodai oleh Kapten Cook menemukan wilayah di selatan New Guinea. Suku Asmat sudah lebih dulu mendiami dan beranak cucu di wilayah ini. Wilayah pesisir itu adalah belantara dengan sungai-sungai mengalir bagaikan ular raksasa hingga di kaki Puncak Gunung Hiri-Akup—atau yang biasa dikenal dengan Puncak Trikora. Orang-orang Asmat menyebar ke suluruh penjuru hutan membangun kampung-kampung mereka. Hidup bertahun-tahun sebagai pemburu dan peramu, mereka dijaga baik oleh hutan yang menjadi rumah sekaligus “mama’ bagi mereka. Hasil hutan yang melimpah ditambah hasil tangkapan dari sungai yang tak ada habisnya.
Sampai pada suatu ketika rombongan para penjelajah, lalu rombongan misionaris dan orang-orang kulit putih lainnya yang mengklaim bahwa wilayah itu adalah bagian dari mereka. Peradaban baru dimulai. Mereka perlahan mulai belajar untuk menyesuakan diri dengan bentuk kehidupan baru yang mulai memasuki wilayah mereka.
Tempat-tempat yang dulunya sakral kini mulai dimasuki para penebang kayu. Suara deru mesin meraung-raung merusak kedamaian hutan membuat takut para penghuninya. Tanah-tanah mereka perlahan mulai dimiliki oleh pendatang. Wilayah mereka semakin sempit. Berburu dan meramu tidak lagi menjadi sebuah jati diri, tetapi berubah menjadi sebuah ketertinggalan yang sangat rendah dimata orang-orang baru. Arus modernitas terlalu kencang, tak mampu diarungi oleh perahu-perahu orang Asmat. Membuat mereka hanyut mengikuti arus pasang surut air sungai. Inilah potret dari sisi lain kehidupan orang Asmat di tengah kota Agats.
Orang-orang Asmat yang kebanyakan adalah masyarakat pemburu dan peramu pada akhirnya harus memilih tinggal di kota jauh dari hutan dan dusun mereka. Mereka kini telah menjadi kaum urban yang memilih bekerja sebagai petugas kebersihan. “Saya sudah 11 tahun tinggal di sini, lebih gampang dapat uang. Kita kerja, kita dapat gaji dari pemerintah. Kalau di kampung uang bantuan dari pemerintah kita tidak dapat.” Kata Edo Oak ketika ditanya mengapa memilih tinggal di kota.
Edo Oak adalah keturunan kepala perang dari Kampung Sawa. Dalam struktur adat orang Asmat, kepala perang adalah salah satu jabatan yang cukup penting. Perannya sangat dibutuhkan dalam setiap pengambilan keputusan di dalam kampung. Ia dan hampir semua orang yang memilih tinggal menetap di kota tak lagi pernah pangkur sagu dan berburu di hutan. Sekarang semua harus dibeli dengan uang.
Begitu juga dengan nasib hutan bagi orang Asmat Syuru. Hutan kini telah menjadi kota, mereka pun pelan-pelan harus belajar hidup yang baru. Pelan-pelan pula menjual dusun kepada para pendatang. Mampukah para peramu bertahan hidup di belantara yang semakin hari semakin keras bagi mereka?
No results found.