Grafiti memang memiliki tradisi panjang sebagai alat diskusi publik langsung. Ia menjembatani kesenjangan antara yang dibungkam dan yang berkuasa, menjadikan tembok bukan sekadar penghalang, tetapi medium politik yang mampu menghidupkan kembali suara kolektif masyarakat.
Pressure bukan sekadar kondisi represi, melainkan energi yang mendorong tindakan kreatif dan politis. Seni jalanan lahir karena tekanan, tetapi juga memproduksi tekanan balik terhadap struktur kekuasaan melalui kritik visual, ironi, dan gangguan simbolik. Banksy, misalnya, menyoal pressure of surveillance lewat karya yang menantang kamera pengawas, menegaskan bahwa dalam masyarakat pengawasan ala Orwell, bahkan tembok pun tidak bebas dari tatapan kekuasaan. Seperti diulas oleh Ruth Leavitt (2014) dalam artikelnya “Banksy and the Politics of (In)Visibility (Journal of Visual Culture)”, seni jalanan semacam itu mengubah tekanan pengawasan menjadi refleksi ironis atas siapa yang memiliki hak untuk melihat dan dilihat.
My ongoing photo series project “the politics of street art”, bercerita tentang perlawanan dari kolektif masyarakat di Kota Makassar, dengan berpusat di Jalan A.P. Pettarani adalah salah satu jalan utama di Kota Makassar menjadi pusat aksi demo maupun aksi individu, dan juga kampus-kampus di Kota Makassar. Dalam project ini tulisan di tembok sebagai subject utama saya dalam melihat politik seni jalanan.
Simbol pengeras suara, foto ini diambil massa aksi BEM se-Makassar #tolakruutni, 2025.
Simbol makam sebagai protes di depan FIB Unhas 2024.
Aksi protest kasus dugaan pelecehan seksual oleh salah satu dosen di FIB Unhas, 28 November 2024.
Aksi menyebarkan protes warga di tembok flyover Makassar, 2025.
Fuck , 2025.
Puing pos polisi flyover Jalan A.P. Pettarani Makassar dibakar massa, 2025.
Aksi protes di tembok Pettarani terhadap polisi, 2025.
Aksi demo 17+8 dan protes kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek daring (ojol) berusia 21 tahun, tewas setelah dilindas oleh kendaraan taktis (rantis) Brimob saat unjuk rasa di Jakarta pada 28 Agustus 2025, di Kota Makassar.
Rejeky Kene is a lens-based visual artist based in Makassar, Indonesia. As a member of Women Photograph, her work explores themes of gender identity and ecology, with a strong interest in using photography as a storytelling tool.