Cerita dari Vihara

Selama pandemi, Vihara Panna Maitreya menjadi sunyi. Tempat yang dulu ramai doa dan dupa kini hanya berisi langkah seorang penjaga: Pak Can. Vihara ini berdiri sejak tahun 1964, dan selama lima belas tahun terakhir, Pak Can-lah yang setia merawatnya.

“Sebelum pandemi, jemaat bisa datang tiga kali sehari untuk sembahyang,” katanya pelan.
“Sekarang, hanya di waktu-waktu tertentu saja tempat ini terasa hidup.”

Cerita ini kualami beberapa tahun silam. Meski ingatanku tentang perbincangan kami mulai memudar, satu hal tetap melekat: tidak ada lelah atau takut dalam suaranya. Tidak ada tekanan dalam geraknya. Dalam ajaran Buddha, akar dari penderitaan adalah keinginan yang tak terpenuhi, penolakan terhadap perubahan, dan keterikatan pada hal-hal duniawi serta ilusi stabilitas atau keabadian. Sementara ajaran tentang ketidakkekalan (anicca) mengingatkan bahwa segalanya berubah. Menolak kenyataan itu hanya menambah derita.

Dari ketenangan Pak Can, aku belajar bahwa menerima perubahan adalah bentuk tertinggi dari keberanian.

  • Keberadaan foto keluarga dan piagam penghargaan di tempat yang sama mencerminkan cara masyarakat Buddhis Tionghoa Mojokerto menggabungkan ruang spiritual dan ruang sosial dalam satu kesatuan penghormatan di mana penghormatan pada Buddha dan leluhur berada dalam satu garis moral.

  • Sepeda dan peralatan Pak Can yang digunakan untuk membersihkan dan menjaga vihara.

  • Foto Pak Can di satu sudut ruangan, bagaimana ia menjaga dan menata kepercayaan dalam keharmonisan di masa Covid-19, serta membawa nilai-nilai Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

  • Ruang altar utama di Vihara Panna Maitreya adalah tempat sembahyang, sekaligus ruang batin yang menuntun umat pada ketenangan dan welas asih dua hal yang menjadi inti ajaran Maitreya.

  • Bagian dalam vihara memperlihatkan ruang yang akrab: altar di belakang, televisi di depan.

  • Benda-benda sehari-hari seperti ini menunjukkan bahwa praktik Buddhis di Mojokerto menyatu dengan kehidupan warga: sederhana, hangat, dan apa adanya.

  • Dua figur penjaga di kaca pintu berdiri lembut di ambang ruang suci. Mereka dipercaya menjaga ketenangan vihara dari energi luar.

  • Foto orang-orang yang pernah menjadi pengurus vihara ini.

Sutiyono Hadi Wijaya

Sutiyono Hadi Wijaya adalah fotografer yang bekerja di bidang foto dan video produk, dengan fokus utama pada dokumentasi furniture. Di luar pekerjaan komersialnya, ia menekuni fotografi cerita, baik digital maupun analog, sebagai cara untuk merekam perasaan dan keheningan yang ia tangkap dari kehidupan sehari-hari. Karya-karyanya dikenal melalui tone hangat, kontras rendah, dan suasana sunyi sebuah karakter visual yang menjadi jembatan antara apa yang ia rasa dan apa yang ia lihat. Ia pernah mengikuti pameran fotografi analog di Kediri dan Mojokerto, serta menggelar pameran tunggal “Lasem di Kala Sepi” di Mojokerto. Sutiyono merupakan anggota komunitas Mojokerto Photo Week, dan pernah belajar di Kelas Pagi Indonesia serta Kelas Pagi Kediri, tempat ia memperdalam pendekatan naratif dan visual dalam karya-karyanya.

 

Instagram