Waktu aku lagi suka banget nonton talkshow di Youtube, ada sebuah video talkshow yang kata-kata dari narasumber tersebut melekat padaku sampai detik ini. Intinya narasumber itu bilang, hening itu bukan berarti karena baik baik saja, bisa jadi hening itu karena mencekam. Kata-kata tersebut membuatku sadar bahwa banyak yang memilih diam bukan karena baik-baik saja tapi bisa jadi diam karena takut, khawatir, mencekam, putus asa, atau bahkan marah.
Sejak saat itu aku selalu berhati-hati karena hening bisa jadi simbol mencekam, diam bisa jadi simbol amarah, “tetap berjalan” bisa jadi simbol penuh tekanan.
Dalam project kali ini dengan tema ‘Pressure’, saya akan memposisikan diri sebagai sebuah lanskap atau benda atau bahkan tumbuhan dan hewan yang selalu menjadi object intervensi manusia. Mereka selalu “diam”, hening tanpa suara tapi sebenarnya mungkin gak kalau sebenarnya mereka tidak suka dengan apa yang dilakukan manusia? Mereka merasa takut, marah, sedih, dll. Menurut saya, mereka selalu punya cara untuk merespon sebuah tekanan dalam diam, bisa jadi tidak lantang, bahkan tidak responsif tapi yang jelas akan selalu melawan.
Sebetulnya alam bisa dengan mudah mengaburkan apapun, bahkan gunung pun bisa tak nampak.
Semua hal selalu bergerak ke arah “harapan”.
Kita semua diawasi oleh mereka!
Sebuah lanskap perkotaan yang kabur.
Kita semua dipaksa tumbuh dalam sebuah “kerangkeng” dengan harapan menghasilkan hal yang maksimal.
Ada harapan di antara sebuah tekanan.
Citree?
Terkadang keindahan hanya dijadikan sampul sebuah kepentingan.
Habis gelap terbitlah…
Pinggiran kota.
Apa salahnya dari bertahan hidup?
Hola, salam kenal saya dipa. penghobi fotografi berbasis di surabaya. memiliki ketertarikan terhadap foto cerita dan buku foto.