Sehari-hari, Mama Rafina berjualan sayur di trotoar jalan di salah satu ruas jalan di kota Agats. Ia merupakan salah satu pasien terapi ART di Rumah Sakit Asmat. Sudah lebih dari dua tahun Mama Rafina menjalani terapi. Ia terinfeksi HIV dari suaminya yang dua tahun lalu telah meninggal. Saat ini ia hidup bersama dua orang anaknya yang masih balita di pondok kecilnya di pinggiran kota Agats. Bertahan hidup sebagai seorang peramu di kota bukanlah hal yang mudah baginya. Hidup di kampung asalnya di distrik sawa erma bukan pula menjadi pilihan yang mudah. Seringkali ketika kesehatannya menurun dan harus dirawat di rumah sakit, Ia terpaksa harus pulang sebelum proses pengobatannya selesai. “Saya tidak bisa kasih tinggal sa punya anak sendiri, dorang masih kecil-kecil.” ceritanya.
Mama Rafina masih harus didampingi selama terapi ART. “ Saya tau sa sakit, itu dari sa punya paitua dulu. Makanya setiap hari sa harus minum obat. Biasa kalau lupa minum badan sakit-sakit, biasa buang-buang air. Kalau sudah begitu saya rasa setengah mati, masuk rumah sakit. Tapi saya terus ingat sa punya anak-anak kecil ini. Saya harus tetap hidup.”
Pada tahun 2020 Dinas Kesehatan Provinsi Papua melaporkan bahwa 43.219 dari 3,3 juta penduduk Papua hidup dengan HIV. Di Kabupaten Asmat sendiri, ada lebih dari 200 orang hidup dengan HIV. Itu yang tercatat, bisa jadi jumlahnya lebih banyak melihat masih banyaknya wilayah yang sulit dijangkau dan sarana penunjang kesehatan di pedalaman yang masih minim.
Di Indonesia, Papua menjadi salah satu provinsi dengan jumlah kasus HIV terbanyak. Sampai saat ini masalah AIDS, TB dan Malaria masih menjadi masalah besar menahun yang belum bisa diselesaikan. Apalagi pada situasi pandemi Covid-19 sekarang ini, situasi bisa lebih semakin sulit dalam upaya mengatasi penyakit mematikan ini.
Penyebab paling tinggi penularan HIV di Papua pada umumnya disebabkan oleh hubungan seks. Baik hubungan seks di dalam pernikahan maupun di luar pernikahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa di kota Agats masih banyak tempat prostitusi terselubung yang sangat digemari oleh banyak lelaki. Ini menjadi salah satu tempat paling beresiko untuk penularan HIV.
Rafina bersama kedua anaknya. Setelah suaminya meninggal karena HIV AIDS.
Hidup yang bias diantara sakit dan tanggungjawab yang harus dihadapi.
Terapi ARV yang harus rutin dijalani setiap hari.
Menjajakan sayur di trotoar jalan.
Kunjungan dari Kelompok Dukungan Sebaya.
Seringkali harus dirawat karena kondisi kesehatan yang menurun.
Survive.
Wajib tenang.
Membayangkan jika anak-anaknya harus berjalan sendiri.
Atau memang pada akhirnya harus pergi.
Fotografer lepas dan peneliti. Tinggal dan berkerja di Asmat, Papua.