Panguda Rasa

Akhir-akhir ini aku sering merasakan kebingungan, tak tahu batasan antara benar dan salah, ragu dengan pilihan yang kupilih sendiri, takut untuk melangkah dan bingung harus mulai dari mana. Banyaknya tuntutan dan semakin sedikitnya ruang untuk melakukan hal yang menyenangkan bagiku membuatku merasa bahwa akhir-akhir ini aku hidup hanya untuk merespon tuntutan dan ekspetasi yang diberikan kepadaku.

Perasaan takut, sedih, bingung, muak dengan apa yang sedang dijalani sering kali muncul dengan tingkat intensitas yang tinggi. Sempat terbesit pertanyaan apakah ini yang dinamakan Quarter-Life Crisis? Karena akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan waktu untuk berpikir. Memikirkan apa arti hidup, aku hidup untuk siapa? Apa itu kebahagiaan? Belum lagi aku sangat merasa ragu dengan apa yang kujalani sekarang, emang iya bisa sukses dengan jalan ini? Tapi juga belum tentu kalau dengan caraku sendiri aku akan sukses, hahahah entahlahhh. Yang pasti perasaan dan pikiran-pikiran ini sangat menggangguku akhir-akhir ini.

Kalau ditanya sampai kapan? Entahlah aku juga ga tau sampai kapan yang terpenting bagiku adalah aku tidak tinggal diam dan terus bergerak maju! Sehingga proyek foto ini aku jadikan salah satu sarana untukku membagikan apa yang kualami dan kurasakan. Di dalam proses eksplorasi karya membuatku banyak berefleksi tentang diri sendiri dan menemukan kepingan-kepingan yang ternyata selama ini hilang dan ga sadar kalau hal-hal tersebut merupakan hal yang penting dalam proses penerimaan diriku.

Ekspolari visual yang aku lakukan merupakan proses pencarian gambaran di masa mendatang tentang diriku, dengan melakukan mencari hubungan dari masa lampau dengan ekspetasi kedepan yang diberikan kepadaku. Pemilihan texture pada kertas yang digunakan juga merupakan upaya untuk aku menceritakan bahwa hidup itu tidak akan pernah berjalan mulus sesuai rencana.

  • Kebingungan-kebingunganku yang membuat aku merasa bahwa aku sedang tidak seutuhnya menjadi diriku sendiri, diriku seakan akan merupakan serpihan dari apa yang aku inginkan dan sebagian lagi merupakan tuntutan dan ekspektasi dari orang-orang yang ada di sekitarku.

  • Pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul ketika sedang menhadapi situasi-situasi yang cukup mengusik sisi emosionalku.

  • Konflik perbedaan sudut pandang tentang kepercayaan atau agama, ketika orang menganggap hanya orang yang rajin ibadah adalah orang baik dan seakan-akan norma tersebut membuatku harus beribadah bukan karena keyakinanku melainkan karena tuntutan.

  • Aku merasa bahwa aku tidak terima atau aku tidak cocok dengan nilai-nilai yang dituntutkan kepada diriku. Sehingga sering kali aku menolak hal-hal tersebut.

  • Selain tuntutan secara nilai atau ekspektasi. Tuntutan lain muncul berupa material. Seakan-akan keberhasilan seseorang hanya diukur dari seberapa banyak uang yang dia bisa dapatkan atau hasilkan.

  • Aku merasa apapun yang dilakukan seolah-olah diawasi dan aku tidak dapat bergerak bebas.

  • Foto ini menceritakan tentang bagaimana perbedaan ekspektasi yang diberikan kepada saya dan apa yang lebih saya sukai.

  • Aku yang masih belum melihat jelas lantas nanti aku akan bagaimana kedepannya. Hanya akan merespon apa yang terjadi di kehidupan ku saja untuk sementara ini.

  • Aku yang berada di usia ini selalu dituntut untuk menikah sedangkan menurutku aku masih ingin melakukan banyak hal sendirian dan belum memiliki rencana terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan.

Thareq Dipa Coryphanthana

Hola, salam kenal saya dipa. penghobi fotografi berbasis di surabaya. memiliki ketertarikan terhadap foto cerita dan buku foto.

 

Instagram