The Yard Remains

Dengan sisa tanah dari sekitaran tempat tinggal, warga menanam berbagai tumbuhan herbal yang digunakan sebagai langkah pertama penyembuhan sebelum ke dokter—jika harus. Resep-resep mengolah tumbuhan herbal itu didapatkan dari tetangga, teman dan warisan keluarga. Saat kota menawarkan berbagai fasilitas kesehatan juga gedung-gedung tinggi yang megah, beberapa warga masih memanfaatkan tanah dari sisa pembangunan tetangga, halaman belakang kantor, lorong samping rumah, pekarangan depan rumah dan bekas rumah tetangga yang kini kosong karena habis terbakar untuk membuat apotik hidup mereka.

Walaupun belum pernah dikonfirmasi di laboratorium, tumbuhan-tumbuhan itu ternyata mampu mencegah dan mengobati penyakit yang dialami warga. Menyenangkannya karena obat-obatan itu tumbuh di tanah sekitaran mereka sehingga untuk sembuh yang diperlukan hanyalah beberapa langkah dari pintu rumah. Selain itu memanfaatkan halaman dengan cara menanam juga membantu tanah memiliki kualitas yang baik, setidaknya menjadi tempat resapan air ketika hujan turun. Menyempitnya ruang untuk tumbuhan hidup karena kegiatan pembangunan dimana-mana menyebabkan banjir menjadi hal yang pasti tiap kali musim hujan datang.

Ada sebuah korelasi kecil antara membuat sehat lingkungan dan diri sendiri. Pada cerita orang-orang di kota yang saya temukan, sisa halaman itu membuat “sehat” sebagai kata kerja yang bukan hanya memerlukan obat, namun juga keberanian untuk berdaya di tengah kota yang padat. Berbekal resep-resep obat yang didapatkan juga sisa tanah untuk menanam sendiri tumbuhan yang diyakini bisa menyembuhkan suatu penyakit adalah satu cara untuk percaya atas sesuatu yang dinamakan harapan.

Aziziah Diah Aprilya

Aziziah Diah Aprilya adalah seorang fotografer asal Makassar. Dia adalah seorang lulusan program studi Jurnalistik, Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin. Tahun 2017, dia pernah mengikuti residensi di Tanahindie, institusi riset perkotaan. Dia membuat proyek fotografi berjudul “Spasi” yang membahas pete-pete, transportasi lokal kota Makassar dan hubungannya dengan jeda, tempo, juga gaya hidup orang-orang di kota. Proyek tersebut juga masuk dalam buku “Kota Diperam Dalam Lontang” (Tanahindie Press, 2019) dan dipamerkan di Kampung Buku juga Rumata’ Art Space.

Tahun 2020, Zizi menulis dan memotret mengenai seorang akupunturis perempuan di Kota Makassar. Hasil risetnya menjadi bagian dalam buku “Ramuan di Segitiga Wallacea” (Yayasan Makassar Biennale, 2020).

Saat ini dia menjadi asisten kurator untuk Makassar Biennale 2021. Dia juga belajar dan bekerja bersama Kampung Buku, perpustakaan komunitas; Artefact, sirkuit pengarsipan seni rupa di Sulawesi; dan Penerbit Ininnawa, penerbit yang menerbitkan naskah dan arsip sulawesi selatan dan barat.

Instagram