Pukul Balik

Buk, buk,buk!
Jab, jab, hook!

Suara pukulan mengenai sandsack bersahutan dengan teriakan dari Soleh Sundava. Siapa yang tak kenal dengan Mang Oleh, demikian dia akrab disapa. Bagi penggemar olahraga tinju, nama itu tentu sudah tak asing lagi di telinga. Mantan juara dunia tinju Kelas Bulu versi WBA ini ternyata kembali lagi ke atas ring. Tapi tidak sebagai pemain. Di satu pekarangan belakang rumah di Kota Kembang yang disulap menjadi sasana tinju, Mang Oleh didaulat menjadi pelatih tinju.

Lantas siapa yang Mang Oleh latih? Lantas dimana Mang Oleh melatih tinju? Rumah Cemara, sebuah rumah singgah bagi para pengguna narkotika dan orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) menjadi sasana tinju tempat Mang Oleh mewariskan kemampuan tinjunya. Salah satunya adalah Eva Dewi, perempuan berusia 36 tahun ini menjadikan Rumah Cemara sebagai tempat berkeluh kesah. Eva yang mengalami permasalahan lebih pelik ketimbang urusan cinta dan perasaan ini memilih Rumah Cemara sebagai tempatnya berbagi suka duka dengan sesama ODHA.

Sejak 2010 silam, Eva memilih tinju sebagai olahraga yang membuka jalan bagi eksistensi dirinya di lingkungan sekitarnya. Di sasana yang dulunya bekas kandang ayam ini, Eva menaruh harapan besar. Sebuah harapan tentang cara mengembalikan rasa percaya diri bahwa dia adalah manusia yang sama dan setara di tengah lingkungannya. Mungkin banyak yang bilang itu adalah sebuah keniscyaan, bagaimana mungkin seorang ODHA mampu diterima kembali oleh masyarakat. Tapi tidak bagi Eva, dia tak mau jika harus terbaring lemah, tubuh tinggal tulang dan kentut atau hanya meracau menyesali perbuatan yang tak ada gunanya.

Bagi perempuan dengan postur tubuh tak lebih dari 160 cm ditambah dengan keistimewaan “sakit” yang dideritanya mungkin tinju menjadi pilihan olahraga yang tak main-main. Bayangkan saja, tinju menuntut setiap petarungnya ini memiliki fisik yang kuat agar tetap bertahan di arena ring. Eva menepis jika ODHA itu tak bisa berbuat apa-apa. Tinggal tidur diatas pembaringan berselimut belang atau bahkan harus diasingkan di dalam kamar bercat serba putih bukanlah pilihan Eva. Tujuh tahun menggeluti dunia tinju rasanya cukup membuktikan jika pukulan uppercut-nya mampu membuat lawannya sesak nafas saat tepat mengenai ulu hati.

Bagi Eva sendiri bukanlah tubuh tegap khas atlet yang ia dambakan, dia sadar tubuhnya jauh dari kesan atletis. Jangankan berotot, daging menutupi kerempeng tubuhnya pun dia sudah cukup senang. Apalagi jika memiliki kepalan tinju sebesar kepala bayi, mungkin Eva sudah petantang petenteng sparring menantang Mang Oleh, Chris John bahkan Mike Tyson. Menjadi seorang petinju professional bukanlah cita-cita Eva. Komitmen Eva untuk mendapat pengakuan dan hidup berdampingan sebagaimana biasanya adalah cita-cita terbesar dalam hidup yang tentunya lebih layak namun untuk mewujudkannya Eva serupa menempuh jalan panjang yang tak berujung. Sejalan dengan visi “Indonesia Tanpa Stigma” yang ditekankan Rumah Cemara di program pelatihan Sport for Development-nya, Eva percaya bahawa dalam olahraga tidak ada batasan dan membeda-bedakan latar belakang ataupun gender.

Tak hanya HIV dan Aids yang membunuh, namun stigma juga. Semangat Eva yang berjuang untuk kesamaan derajat, hak bersuara dan perempuan pun bias lebih kuat seolah tertanam pada tubuhnya. Eva membuktikan bahwa perbedaan latar belakang hidup ataupun masalah gender tidak membuatnya lemah. “Derita kalian mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan saya, tetap berjuang apa pun yang terjadi, usaha akan menghasilkan hasil yang setimpal. Sudah saatnya kita pukul balik!” tegas Eva.

  • Eva menyusuri gang kecil di kawasan pemukiman padat penduduk Kota Bandung. Lingkungannya sangat lekat dengan pengaruh narkoba.

  • Bagi Eva, olahraha tinju tak hanya memacu adrenalinnya. Namun menjadi sarana terapi terhadap perkembangan kesehatannya. Pada 2010 lalu ia divonis positif HIV.

  • Sudah lima tahun Eva melakoni latihan tinju. Arahan dari mantan atlet profesional yang sekarang melatihnya membuat kemampuan tinju Eva bisa diperhitungkan.

  • Menjadi petinju profesional bukanlah cita-cita Eva. Tinju adalah aktualisasi diri untuk mendapatkan kepercayaan.

  • Rekan Eva sesama ODHA saat melakukan pemanasan, olahraga tinju yang membutuhkan ketahanan fisik bukanlah pilihan main-main bagi ODHA.

  • Terbiasa menghadapi permasalahan hidup sendirian, menjadikan Eva perempuan yang tangguh.

  • Meski aktif berolahraga, setiap sebulan sekali Eva memeriksakan kesehatannya di salah satu klinik kesehatan di rumah sakit pemerintah di Kota Bandung. Di tempat ini pula Eva dan sesama ODHA mendapat pengawasan kesehatan.

  • Terapi ARV tak pernah putus Eva lakukan. Setiap harinya ia mengonsumsi pil ARV guna menekan perkembangan HIV di tubuhnya.

  • Eva sadar dukungan sangatlah penting, bersama sesama ODHA yang aktif di Rumah Cemara ia mampu berbagi suka dan duka.

  • Lingkungan yang terbuka menerima kehadirannya adalah harapan yang tak pernah pupus Eva wujudkan. Stigma terhadap kelompok ODHA adalah musuh terbesar Eva.

  • Eva tak menganggap menghidupi keluarga di tengah sakit yang ia idap adalah beban. Hal ini justru menguatkan Eva untuk melindungi keluarga dari pengaruh buruk lingkungan yang ia pernah alami.

Djuli Pamungkas

Fotografer yang berdomisil di Bandung, Jawa Barat. Sangat tertarik untuk memotret masyarakat, adat dan budaya. Saat ini menekuni proyek visual video dokumenter melalui Saujana Documentary.

Instagram