Travesti merupakan sebutan lelaki yang berperan sebagai wanita dalam pentas Ludruk. Ludruk sendiri merupakan kesenian tradisi khas Jawa Timur. Menurut catatan sejarah, Ludruk lahir di Jombang Jawa Timur. Kesenian Ludruk merupakan pembaharu dari embrionya yaitu Lorek, sebuah kesenian yang menampilkan kekuatan kanuragan, lalu menjadi Ludruk penampilan tari, lawak, musik, dan drama. Ludruk lahir ditengah himpitan penjajahan, menyuarakan kritik terhadap penguasa penjajah hingga bertempur secara fisik dengan tentara belanda dan jepang kala itu. Maka dari itu pemain Ludruk diwajibkan semua adalah laki-laki. Jika ada peran perempuan maka dimainkan oleh laki-laki yang berdandan perempuan.
Pasca kemerdekaan, kesenian ini sempat dibekukan oleh Pemerintah Orde Baru karena dinilai terlalu vokal hingga dituduh sebagai”corong” Partai Komunis. Pasca ’65, lambat laun Ludruk bangkit kembali tetapi di bawah pengawasan militer.
Di era modern saat ini, kesenian Ludruk masih eksis di tengah kemajuan zaman. Di Mojokerto salah satunya, kelompok Ludruk Karya Budaya menjadi salah satu kelompok Ludruk yang masih mempertahankan pakem atau aturan baku bahwa pemain adalah semua laki-laki.
Travesti dalam Ludruk tak semuanya adalah waria. Ada juga lelaki sejati. Ia hanya bermain peran sebagai wanita saat pentas di atas panggung, realita itu menarik saya untuk merekamnya dalam media visual, Eko Edi Susanto (alm) pemimpin Ludruk Karya Budaya Mojokerto pernah mengatakan, Ludruk akan tetap ada sering berkembangnya zaman karena sejatinya Ludruk merupakan suara rakyat dan realitas kehidupan.