Haekrit

Setelah 25 tahun Timor Leste berpisah dari Indonesia muncul perkampungan baru di Kabupaten Belu. Salah satu perkampungan yang muncul di Kabupaten Belu adalah Haekrit. Haekrit sendiri dulunya adalah tanah kosong yang kemudian didirikanlah resettlement oleh pemerintah bekerja sama dengan TNI. Resettlement itulah yang menjadi perkampungan yang menampung kurang lebih 80 kepala keluarga yang merupakan eks pengungsi Timor Leste yang mengungsi ke Indonesia pada tahun 1999. Kampung Baru Haekrit ini terletak di Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT.

Mata pencaharian utama para penduduk Haekrit adalah petani, tukang ojek, tukang bangunan, tukang kayu, petani penggarap, BMI, Ibu Rumah Tangga, guru, dan Bunda PAUD. Untuk masuk ke Haekrit, harus melewati jalan pengerasan dengan kondisi jalan yang rusak parah karena material jalan yang terdiri dari batu kali dan sertu kali telah terbongkar karena ketika terjadi hujan, air hujan membawa material jalan tersebut. Sebuah Sekolah Dasar menjadi bangunan pertama yang dijumpai sebelum memasuki kampung. Selain itu di Haekrit ada sebuah bangunan PAUD, sebuah Kapela yang digunakan sebagai tempat beribadat di Hari Minggu dan sebuah bendungan yang bernama Bendungan Haekrit yang digunakan untuk mengairi sawah dan sebagai tempat memancing.

Dari sekian banyak kepala keluarga yang tinggal di Haekrit adalah Tanta Noy dan Mama Ros yang merupakan salah satu penduduk yang tinggal di Haekrit sejak tahun 2004. Permasalahan utama yang dihadapi Tanta Noy dan Mama Ros juga penduduk Haekrit pada umumnya adalah masalah jalan, air bersih, rumah bantuan yang sudah rusak, tidak ada gedung SMP, tidak tersedia beasiswa bagi anak-anak yang telah menamatkan pendidikan di bangku SMA dan tidak adanya lapangan kerja bagi anak muda.

Harapan Tanta Noy untuk pemerintah adalah semoga ada perbaikan jalan dan semoga ada gedung SMP sehingga anak-anak tidak perlu bersekolah di kota lagi. Karena selama ini anak-anak bersekolah di kota dan itu membutuhkan biaya untuk isi bensin dan bayar ojek. Harapan Mama Ros untuk pemerintah adalah semoga jalan diperbaiki, rumah warga yang sudah rusak diperbaiki, anak-anak yang sudah menamatkan pendidikan di bangku SMA bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan semoga ada peluang lapangan kerja untuk anak muda.

  • Seorang tukang ojek sedang mengendarai motor melewati jalanan menuju Kampung Haekrit yang terletak di Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (04/10/2023).

  • Seorang Ibu sedang memperbaiki ikatan pada kayu di belakang rumahnya. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (20/09/2023).

  • Tiga orang tukang sedang menggali pondasi sebuah rumah yang terletak di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (04/10/2023).

  • Seorang anak sedang menyiram tanaman tomat di sebuah kebun. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. Minggu, (10/09/2023).

  • Anak-anak sedang berlarian di area Bendungan Haekrit yang terletak di Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT.

  • Tanta Noy sedang berdiri di sebelah meja tempatnya berjualan minuman ringan. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (04/10/2023).

  • Tanta Noy sedang berpose bersama keluarga besarnya di acara pernikahan adik iparnya. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (28/09/2023).

  • Rumah lama milik Tanta Noy yang telah rusak. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (20/09/2023).

  • Mama Ros sedang memberi makan ayam di belakang rumahnya yang terletak di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (28/09/2023).

  • Seorang anak berdiri di depan kuburan kakek dan neneknya. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (04/10/2023).

  • Tanta Noy menggunakan lutu yang merupakan tanda perkabungan. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT.

  • Dua orang warga Haekrit yang menggunakan lutu ketika mengikuti misa yang diadakan di Kapela yang terletak di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. Minggu, (10/09/2023).

  • Mama Ros berdiri di depan PAUD OAN TIMOR yang merupakan tempatnya mengajar. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (05/10/2023).

  • Seorang guru sedang mengajar di ruangan kelas di sebuah Sekolah Dasar yang terletak di Haekrit. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT.

  • Seorang Ibu sedang menimba air di sumur menggunakan jeriken. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (10/09/2023).

  • Anak-anak sedang mandi di kali yang terletak di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (20/09/2024).

  • Seorang bapak sedang menarik gerobak berisi jeriken dibantu oleh anak-anak yang mendorong dari belakang. Foto diambil di Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. (04/10/2023).

Yanti Mesak

Pemilik nama lengkap Silviana Yanti Mesak ini tinggal di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. Kegiatan sehari- harinya adalah membaca buku, menulis, berdagang, mengurus anjing dan kucing, dan mulai belajar memotret.

Cerpennya pernah dimuat di Jurnal Sastra Santarang, Jurnal Sastra Filokalia, Majalah Berkat Keuskupan Atambua dan Trans Flobamorata. Pernah mengikuti workshop fotografi dan pameran foto online yang diadakan oleh BAKTI Kominfo dan Impact Adventures Travel. Pernah mengikuti workshop fotografi dan pameran foto dengan tema Rawat Hak Dasar yang diselenggarakan oleh KBR dan PannaFoto Institute. Pernah melakukan riset di Dua Kampung Baru yang dibentuk untuk para pengungsi dari Timor-Timur (Timor Leste) yang datang mengungsi pada tahun 1999. Pernah mengikuti workshop fotografi dan pameran dengan tema Tenun Untuk Kehidupan yang diselenggarakan oleh PannaFoto Institute dan Lawe Indonesia.

Pada tahun 2023 mendapatkan Beasiswa dan Pelatihan Foto Jurnalistik untuk Perempuan dan Minoritas Gender yang diselenggarakan oleh Project Multatuli. Pada tahun yang sama ia juga mengikuti Temu Seni Fotografi yang diadakan oleh Indonesia Bertutur. Tulisannya yang bercerita tentang Ibu tunggal penyintas kekerasan seksual dimuat di platform perempuanberkisah.id. Tulisan tentang para pencari suaka Kupang dimuat di platform forpeaceproject.

Instagram