The Frontier Nuns

Pada tahun 2015, empat suster dari Kongregasi Puteri-putri Reinha Rosario (PRR) mendapat tugas berisiko tinggi di wilayah Mumugu Batas Batu, daerah terpencil di Distrik Sawa Erma, Kabupaten Asmat. Mereka diutus untuk melayani para penderita kusta yang membutuhkan perawatan dan pendampingan. Mumugu Batas Batu yang terletak hampir 200 km dari pusat Kabupaten Asmat di Agats merupakan salah satu daerah terluar kabupaten.

Sejak ditemukannya kasus kusta, suster-suster Reinha Rosari menjadi tim pertama yang melayani penyakit ini di Kabupaten Asmat. Dengan dedikasi dan keberanian yang luar biasa, mereka telah merawat para penderita kusta di wilayah ini. Mereka juga mengajar anak-anak dan membimbing masyarakat dalam belajar berkebun untuk meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan pangan.

Namun, situasi menjadi lebih rumit ketika konflik antara pejuang kemerdekaan Papua dan TNI meningkat di wilayah Kenyam. Mumugu Batas Batu merupakan daerah yang menegangkan, pintu gerbang operasi militer di Nduga. Pengungsi dari daerah konflik datang ke pinggiran Batas Batas Mumugu untuk mencari tempat yang aman. Lokasi yang strategis ini juga membuat Batas Mumugu Batu menjadi incaran kelompok pejuang kemerdekaan karena keberadaan POS TNI.

Meskipun ancaman konflik dan kekerasan semakin meningkat, semangat pengabdian para suster PRR tidak pernah luntur. Mereka menghadapi risiko besar setiap hari, tetapi tetap setia pada misi mereka: merawat penderita kusta, mengajar anak-anak, dan membantu masyarakat setempat bertahan dan berkembang dalam situasi sulit.

Kisah hidup para suster di Batas Mumugu Batu tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga menjadi inspirasi. Mereka memberikan perawatan medis, harapan, dan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan. Dalam situasi ketidakpastian dan bahaya, mereka membawa cahaya dan penghiburan bagi mereka yang terpinggirkan.

Pengalaman para suster di Batas Mumugu Batu merupakan cerminan keberanian dan pengorbanan tanpa pamrih. Mereka menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian dan bahaya, cinta dan pelayanan kepada sesama tetap menjadi perhatian utama.

  • Suster Florida, PRR, kembali dari kebun, melewati Jalan Trans Papua yang menghubungkan Asmat dan Nduga. Ia bertemu dengan ibu-ibu yang baru saja berjualan hasil panen mereka.

  • Suster Gabrielis, PRR, dan suster-suster lainnya mempersiapkan gereja untuk Misa Minggu di St. Damianus Mumugu Batas Batu.

  • Suster Helga, PRR, mengajar di sekolah darurat yang sebagian muridnya adalah pengungsi dari daerah Nduga.

  • Suster Marlena, PRR, mengajar anak-anak TK di gedung Pelayanan Kesehatan. Karena keterbatasan ruang kelas, ia mengajar di beranda gedung Pelayanan Kusta.

  • Suasana kelas darurat yang didirikan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) di daerah Mumugu Batas Batu.

  • Susu dan pisang goreng gratis yang disediakan oleh Suster Helga, PRR, untuk semua siswa.

  • Kamar para suster di Biara.

  • Suster Florida dan Suster Marlena sedang memanen pisang dari kebun mereka.

  • Kehidupan doa menjadi dasar pelayanan mereka.

  • Suster Florida, PRR, menerima kunjungan dari masyarakat setempat.

  • Suster Marlena, PRR, siap mengantarkan makanan ke rumah sakit kusta.

Andreas Wahyu

Fotografer lepas dan peneliti. Tinggal dan berkerja di Asmat, Papua.

Instagram