Yayak Yatmaka, Yaya Iskra, Yayak Kencrit, dan Ismaya nama-nama itu milik satu orang yang nama sesungguhnya adalah Bambang Adya Yatmaka, pria kelahiran Yogyakarta tahun 1956. Dia adalah seorang pelukis realisme sosial Indonesia. Dia lulusan desain grafis, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan sudah dikenal sebagai perancang grafis, illustrator, komikus, sutradara, penulis dan aktivis gerakan sosial sejak tahun 1978. Pada tahun 1990, menerbitkan komik yang berjudul “ TINI. Pekerja Anak di Perkebunan Tembakau Boyolali” setelah itu, Yayak diundang oleh berbagai sekolah dan organisasi petani di 35 kota Prancis.
Karya Seni Visual menjadi senjata yang dia pilih untuk melawan orde baru. Persoalan yang terjadi pada masyarakat seperti kemiskinan, korupsi, penindasan,pelanggaran HAM, pelecehan dan segala bentuk ketidakadilan menjadi fokus utamanya.
Dia aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) membangun Jaringan Pendidikan Alternatif Anak Merdeka yang memanfaatkan seni sebagai media untuk mendidik anak-anak pinggiran di wilayah konflik.
Karya visual maupun tulisannya telah membuat pemerintahan orde baru geram masa itu, hal itu membuat Yayak harus terus berlari dan bersembunyi hingga sampai ke Jerman selama 15 tahun.
Pada tahun 1991, Lukisan “Tanah untuk Rakyat” menimbulkan pertarungan sengit antara dia dengan pemerintah orde baru. Dia menjadi buronon subversif, artinya dia boleh ditangkap dalam keadaan hidup atau mati. Sejak itu, dia harus mengubah identitas diri dan penampilannya untuk bertahan. Meskipun terus bersembunyi, karya-karyanya tersebar untuk membangkitkan semangat kaum tertindas dengan cara senyap.
Kembali ke tanah air pada akhir tahun 1998. Bersama kawan-kawan pelawan Orba termasuk Gus Dur mendirikan organisasi Perguruan Rakyat Merdeka (PRM) dan bergabung di Taring Padi Yogyakarta.
Kembalinya Yayak ke Indonesia bukan hanya untuk menikmati kemerdekaan sebagai warga negara Indonesia, namun untuk melanjutkan perjuangannya lewat lukisan yang mengkritisi kerja pemerintah yang lalai mengedepankan kepentingan rakyat yang termajinalkan.