“Kalau mau pindah silahkan, tapi Tuhan jangan dibuat main-main ya”, kata tersebut keluar dari mulut Dian, Ibu dari Syaharani Justisia atau biasa dipanggil Yusi. Remaja berusia 15 tahun mendapatkan pengalaman dengan keyakinan yang baru ketika ia duduk bersama dan mendengarkan doa sebelum makan dengan keluarga Pamannya yang berkeyakinan Katolik. Sejak saat itu ia mencoba untuk melihat keyakinan yang berbeda dari yang ia anut.
Pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan terkait aturan dalam sebuah keyakinan saat duduk di bangku TK menyisakan trauma yang mendalam.
Keinginan kuat untuk pindah keyakinan terjadi saat ia duduk di semester 2 kelas 10. Melalui pamannya ia belajar mengenai agama katolik, hingga bulan Januari 2019, Yusi harus mengikuti katekisasi yang merupakan pembelajaran agama selama 1 tahun sebelum pembaptisan.
“Aku belajar asal penciptaan bumi, sejarah Bunda Maria dan Yesus, perjanjian baru dan lama, bagaimana cara ibadat gereja katolik dari advend sampai natal , hari suci, paskah, alat ibadah, doa khusus penting dan bacaan rosario”, ujar Yusi saat menceritakan pengalaman katekisasi.
Nama baru pun akan disematkan pada dirinya saat pembaptisan, yaitu St. Catherine dari Siena yang dipilih karena merupakan pelindung justice dan aktivis, selaras dengan nama asli Yusi.
Pada hari pembaptisan, dengan didampingi bibinya yang merupakan Ibu baptis, ia mengikuti proses dengan khidmat.
Harapan terbesarnya saat ini agar dapat lebih baik lagi dalam beribadah. Yusi beruntung, saat ia memilih keyakinan yang baru, keluarga dan sanak saudara mendukung dalam proses tersebut. Karena walaupun dengan perbedaan keyakinan, tidak akan menghapus kenyataan bahwa mereka satu keluarga, dan tentunya satu kemanusiaan.